Isi Surat Trauma Patwal Presiden Hendra NS. Surat pembaca dari berita harian Kompas dengan judul “Trauma oleh Patwal Presiden” sudah direspon Presiden SBY. Hal ini diungkapkan oleh Staf Presiden bidang Hukum Denny Indrayana.

Foto Hendra NS Pengirim Surat Trauma Patwal Presiden (Foto : Detikcom)
Trauma Patwal Presiden yang dikirim oleh Hendra NS membuat Presiden bertindak serius untuk menangani kebenaran akan hal ini. “Presiden akan memberikan sanksi tegas kepada pelaku jika memang benar isi surat pembaca tersebut”.
Inilah Isi Surat Trauma Patwal Presiden Hendra NS
Redaksi Yth
Trauma oleh Patwal Presiden Sebagai tetangga dekat Pak SBY, hampir saban hari saya menyaksikan arogansi Patroli dan Pengawalan (Patwal) iring-iringan Presiden di jalur Cikeas-Cibubur sampai Tol Jagorawi. Karena itu, saya-juga mayoritas pengguna jalan itu-memilih menghindar dan menjauh bila terdengar sirene Patwal.
Namun, kejadian Jumat (9/7) sekitar pukul 13.00 di Pintu Tol Cililitan (antara Tol Jagorawi dan tol dalam kota) sungguh menyisakan pengalaman traumatik, khususnya bagi anak perempuan saya.
Setelah membayar tarif tol dalam kota, terdengar sirene dan hardikan petugas lewat mikrofon untuk segera menyingkir. Saya pun sadar, Pak SBY atau keluarganya akan lewat. Saya dan pengguna jalan lain memperlambat kendaraan, mencari posisi berhenti paling aman. Tiba-tiba muncul belasan mobil Patwal membuat barisan penutup semua jalur, kira-kira 100 meter setelah Pintu Tol Cililitan. Mobil kami paling depan. Mobil Patwal yang tepat di depan saya dengan isyarat tangan memerintahkan untuk bergerak ke kiri. Secara perlahan, saya membelokkan setir ke kiri.
Namun, muncul perintah lain lewat pelantam suara untuk menepi ke kanan dengan menyebut merek dan tipe mobil saya secara jelas. Saat saya ke kanan, Patwal di depan murka bilang ke kiri. Saya ke kiri, suara dari pelantam membentak ke kanan. Bingung dan panik, sayapun diam menunggu perintah mana yang saya laksanakan.
Patwal di depan turun dan menghajar kap mesin mobil saya dan memukul spion kanan sampai terlipat. Dari mulutnya terdengar ancaman, “Apa mau Anda saya bedil?” Setelah menepi di sisi paling kiri, polisi itu menghampiri saya. Makian dan umpatan meluncur tanpa memberi saya kesempatan bicara. Melihat putri saya ketakutan, saya akhirnya mendebatnya.
Saya jelaskan situasi tadi. Amarahya tak mereda, malah terucap alasan konyol tak masuk akal seperti “dari mana sumber suara speaker itu?”, atau “mestinya kamu ikuti saya saja”, atau “tangan saya sudah mau patah gara-gara memberi tanda ke kiri”. Permintaan saya dipertemukan dengan oknum pemberi perintah dari pelantam tak digubris. Intimidasi hampir 10 menit yang berlangsung tepat di depan Kantor Jasa Marga itu tak mengetuk hati satu pun dari anggota Patwal lain yang menyaksikan kejadian itu. Paling tidak, menunjukkan diri sebagai pelayan pelindung masyarakat. Karena dialog tak kondusif, saya buka identitas saya sebagai wartawan untuk mencegah oknum melakukan tindak kekerasan. Ia malah melecehkan profesi wartawan dan tak mengakui perbuatannya merusak mobil saya. Identitasnya tertutup rompi. Oknum ini malah mengeluarkan ocehan, “Kami ini tiap hari kepanasan dengan gaji kecil. Emangnya saya mau kerjaan ini?”
Saat rombongan SBY lewat, ia segera berlari menuju mobil PJR-nya, mengikuti belasan temannya meninggalkan saya dan putri saya yang terbengong-bengong.
Pak SBY yang kami hormati, mohon pindah ke Istana Negara sebagai tempat kediaman resmi presiden. Betapa kami saban hari sengsara setiap Anda dan keluarga keluar dari rumah di Cikeas. Cibubur hanya lancar buat Presiden dan keluarga, tidak untuk kebanyakan warga.
HENDRA NS
Cibubur
Itulah “Isi Surat Trauma Patwal Presiden oleh Hendra NS” semoga bisa menjadi introspeksi untuk aparat penegak hukum di negara ini agar bisa lebih baik dalam dan benar-benar mengayomi masyarakat.
July 17, 2010 at 9:40 pm
Tampaknya masyarakat harus diberi informasi tentang protokoler Pengamanan Presiden & VVIP, agar tidak salah paham dan dapat mengerti.
Pada tanggal & jam yang sama, saya berada dilintasan InterChange KM 00 ++. Ketika saya melihat banyak mobil polisi di jalan tsb, saya langsung paham akan ada VVIP lewat. Karena itu saya langsung lambat & hati2 dan menunggu petunjuk petugas. Kendaran saya berhenti pada sisi kanan – barisan kedua. Beberapa saat kemudian lewat dengan kecepatan cukup tinggi rombongan Presiden + pengawal,menurut saya itu hal yang wajar untuk keamanan VVIP. Saya lihat masih banyak kendaraan pribadi yang belum mau lambat/menepi ketika melihat “Peringatan Awal oleh Polisi” Kepada masyarakat harap dapat memaklumi – tingkat kehati2an petugas dalam menjaga keselamatan Presiden, VVIP atau Tamu Negara, sehingga kadangkala tampak garang. Namun jika melebihi dari batas kewajaran & prosedur, memang harus ditegur.
Hal lain yang harus diperhatikan pengendara mobil adalah : Lintasa KA, Ambulance, Konvoi Militer, Pemadam Kebakaran, dll yang telah diatur oleh pemerintah.
July 17, 2010 at 9:53 pm
yah,begitu lah sikap yang seolah olah punya negara.
hukum emang gak pernah adil.
nasib jadi orang kecil.